Dia yang kamu pikir keras seperti intan, dalamnya ternyata selembut sutra.
Dia yang kamu pikir kuat seperti baja, dalamnya ternyata lemah seperti benang.
Dia yang kamu pikir setegar tembok beton nan gagah, dalamnya rapuh seperti kayu yang digerogoti rayap. Siap hancur kapan saja.
Jangan anggap dia manusia luar biasa, yang bisa selalu tersenyum dan tertawa padahal dalam hatinya menangis meraung-raung.
Nyatanya manusia pandai bersandiwara, dengan topeng-topeng bahagia, terucap selalu, "Aku baik-baik saja."
"Tak mau buat kau khawatir" katanya.
"Tak mau merusak suasana" katanya.
Dengan 1000 topengnya manusia pergi mengahadap dunia.
Dengan topeng khusus untuk berhadapan dengan yang tidak dikenalnya.
Dengan topeng khusus untuk berhadapan dengan teman-temannya.
Dengan topeng khusus untuk berhadapan dengan sahabat-sahabatnya.
Dengan topeng khusus untuk berhadapan dengan keluarganya.
Sedangkan wajah aslinya yang selalu dia sembunyikan hanya akan dia perlihatkan jika berhadapan dengan dirinya sendiri.
Manusia sepandai-pandainya makhluk pembohong, tak segan-segan senyumnya mau membohongi hatinya sendiri.
Tentang Kamu,
Buah dari waktu-waktu yang terbuang.
Minggu, 10 Februari 2019
Senin, 23 Juli 2018
Tentang Indahnya Silaturahim
Bagiku belajar bukan cuma duduk di kelas dengerin ceramah dari dosen. Belajar bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Kali ini aku mendapat pembelajaran tentang hidup yang sangat berharga dari salah satu budaya Hari Raya, silaturahim.
Alhamdulillah, lebaran tahun ini aku sekeluarga bisa pulang ke kampung abiku di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dulu saat nenek dan kakekku masih ada, kami sekeluarga sering berkunjung ke sana.
Satu hal yang membuatku terkagum-kagum sejak dulu sampai sekarang adalah kekeluargaan di kampung yang sangat amat terasa. Bahkan setiap penghuni kampung sudah seperti saudara sendiri. Abi yang sudah merantau lebih dari 20 tahun saja tetap disambut hangat setiap pulang. Rasanya aku ikut bahagia setiap ada yang menyapa abiku "Onde mande, Fahmi. Baa kabaa? Bilo pulang?".
Terkadang aku bingung, yang mana yang saudara, yang mana yang teman masa kecil, yang mana yang tetangga. Setiap kutanya pada Abi apakah itu saudara atau teman selalu dijawab "Saudara, seiman". Teringat bagaimana aku di lingkungan rumahku jarang sekali berinteraksi dengan tetangga sekitar, jika tidak ada kegiatan di luar, biasanya aku mengurung diri di rumah, hanya keluar jika disuruh umi ke warung. Dengan tetangga hanya sekedar menyapa jika berpapasan, tanpa tahu kabar dan keadaannya, atau malah ada yang cuma bertemu di mesjid saat tarawih setiap Ramadhan.
Seperti budaya hari raya pada umumnya, kami pergi bersilaturahmi ke rumah-rumah saudara di sekitar kampung. Sayangnya waktu kami di kampung sangat singkat karena harus bolak-balik ke Kota Padang sehingga tidak semua rumah bisa kami sambangi. Salah satu rumah yang kami datangi adalah rumah Nenek Baiti, kakak dari almarhum kakekku.
Kami baru sempat datang ke rumahnya ketika sudah sangat larut. Pukul 10.00 tepatnya. Betul saja, ketika kami datang Nek Baiti sudah tertidur di depan televisi yang masih menyala. Hanya ada satu cucunya yang belum pernah kami temui sebelumnya. Saat Abi mendekati sofa tempat beliau tidur, tiba-tiba beliau terbangun dengan wajah sedikit terkejut. Beliau langsung duduk dan memasang kerudungnya dengan susah payah sehingga harus dibantu oleh umi. Mulanya aku menduga beliau sudah lupa pada abi (kalau pada aku dan umi sih pasti lupa karena hanya bertemu setiap pulang ke sana), ternyata beliau masih ingat! Dimulailah perbincangan antara abi dan Nek Baiti yang sebagian besar tidak dapat kutangkap karena bahasa dan suara Nek Baiti yang kecil.
Nek Baiti merupakan satu-satunya yang masih ada di Keluarga kakekku, adik-adik beliau sudah lama mendahuluinya. Beliau terlihat sangat renta, ketika ditanya oleh abi, "Umur etek kini bara?" (Umur tante sekarang berapa?), beliau menjawab 84 tahun namun langsung disanggah oleh cucunya karena ternyata umur beliau sudah 89 tahun. Akan tetapi, MasyaAllah, pendengaran, penglihatan, dan ingatan beliau masih baik walaupun berkurang karena usia. Bahkan beliau masih bisa berjalan dan menonton televisi.
Kepada abi, Nek Baiti juga bertanya tentang kakak dan adik abi, apakah mereka akan pulang ke kampung juga atau tidak. Walaupun sudah lama merantau, abi, kakak-kakak, dan adiknya selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahim dengan Nek Baiti setiap pulang ke kampung. Hal itu yang membuat Nek Baiti masih mengingat keponakan-keponakannya di usia senja.
Setiap orang pasti punya kesibukan masing-masing. Namun disela-sela padatnya kegiatan, coba sempatkan untuk bersilaturahim, sekedar bertanya keadaan dan kondisi pun cukup.
Kata orang, silaturahim bisa dapet THR (gakdeng wkwk), silaturahim bisa memperpanjang usia. Terlepas dari benar atau tidaknya, sesuai dengan arti silaturahim sendiri, menyambung kasih sayang, silaturahim merupakan bukti kepedulian dan dapat menjaga hubungan antara aku, kamu, kita.
Alhamdulillah, lebaran tahun ini aku sekeluarga bisa pulang ke kampung abiku di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dulu saat nenek dan kakekku masih ada, kami sekeluarga sering berkunjung ke sana.
Satu hal yang membuatku terkagum-kagum sejak dulu sampai sekarang adalah kekeluargaan di kampung yang sangat amat terasa. Bahkan setiap penghuni kampung sudah seperti saudara sendiri. Abi yang sudah merantau lebih dari 20 tahun saja tetap disambut hangat setiap pulang. Rasanya aku ikut bahagia setiap ada yang menyapa abiku "Onde mande, Fahmi. Baa kabaa? Bilo pulang?".
Terkadang aku bingung, yang mana yang saudara, yang mana yang teman masa kecil, yang mana yang tetangga. Setiap kutanya pada Abi apakah itu saudara atau teman selalu dijawab "Saudara, seiman". Teringat bagaimana aku di lingkungan rumahku jarang sekali berinteraksi dengan tetangga sekitar, jika tidak ada kegiatan di luar, biasanya aku mengurung diri di rumah, hanya keluar jika disuruh umi ke warung. Dengan tetangga hanya sekedar menyapa jika berpapasan, tanpa tahu kabar dan keadaannya, atau malah ada yang cuma bertemu di mesjid saat tarawih setiap Ramadhan.
Seperti budaya hari raya pada umumnya, kami pergi bersilaturahmi ke rumah-rumah saudara di sekitar kampung. Sayangnya waktu kami di kampung sangat singkat karena harus bolak-balik ke Kota Padang sehingga tidak semua rumah bisa kami sambangi. Salah satu rumah yang kami datangi adalah rumah Nenek Baiti, kakak dari almarhum kakekku.
Kami baru sempat datang ke rumahnya ketika sudah sangat larut. Pukul 10.00 tepatnya. Betul saja, ketika kami datang Nek Baiti sudah tertidur di depan televisi yang masih menyala. Hanya ada satu cucunya yang belum pernah kami temui sebelumnya. Saat Abi mendekati sofa tempat beliau tidur, tiba-tiba beliau terbangun dengan wajah sedikit terkejut. Beliau langsung duduk dan memasang kerudungnya dengan susah payah sehingga harus dibantu oleh umi. Mulanya aku menduga beliau sudah lupa pada abi (kalau pada aku dan umi sih pasti lupa karena hanya bertemu setiap pulang ke sana), ternyata beliau masih ingat! Dimulailah perbincangan antara abi dan Nek Baiti yang sebagian besar tidak dapat kutangkap karena bahasa dan suara Nek Baiti yang kecil.
Nek Baiti merupakan satu-satunya yang masih ada di Keluarga kakekku, adik-adik beliau sudah lama mendahuluinya. Beliau terlihat sangat renta, ketika ditanya oleh abi, "Umur etek kini bara?" (Umur tante sekarang berapa?), beliau menjawab 84 tahun namun langsung disanggah oleh cucunya karena ternyata umur beliau sudah 89 tahun. Akan tetapi, MasyaAllah, pendengaran, penglihatan, dan ingatan beliau masih baik walaupun berkurang karena usia. Bahkan beliau masih bisa berjalan dan menonton televisi.
Kepada abi, Nek Baiti juga bertanya tentang kakak dan adik abi, apakah mereka akan pulang ke kampung juga atau tidak. Walaupun sudah lama merantau, abi, kakak-kakak, dan adiknya selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahim dengan Nek Baiti setiap pulang ke kampung. Hal itu yang membuat Nek Baiti masih mengingat keponakan-keponakannya di usia senja.
Setiap orang pasti punya kesibukan masing-masing. Namun disela-sela padatnya kegiatan, coba sempatkan untuk bersilaturahim, sekedar bertanya keadaan dan kondisi pun cukup.
Kata orang, silaturahim bisa dapet THR (gakdeng wkwk), silaturahim bisa memperpanjang usia. Terlepas dari benar atau tidaknya, sesuai dengan arti silaturahim sendiri, menyambung kasih sayang, silaturahim merupakan bukti kepedulian dan dapat menjaga hubungan antara aku, kamu, kita.
Selasa, 12 Juni 2018
Tentang Mimpi
Aku punya mimpi tuk menggapai bulan
Cahayanya nan indah
Seperti mutiara dalam gemerlap
Sepanjang malam ia kudamba
Sepanjang malam ia kukejar
Semakin lama semakin dekat
Semakin yakin tuk bisa dapatkannya
Tanpa kusadari
Semakin kukejar
Semakin ia jauh
Semakin lama ia hilang
Bulan tak bisa kugapai
Mimpi tak bisa kugapai
Tenggelam aku dalam kegagalan
Tersesat aku dalam kesedihan
Terlarut aku dalam penyesalan
Tanpa kusadari
Matahari datang menggantikan
Sinarnya jauh lebih terang
Ia sinari yang gemerlap
Ia terangi yang gulita
Tanpa kusadari
Tuhan sudah siapkan yang lebih indah
Karena tuhan tahu yang terbaik untuk kita
Cahayanya nan indah
Seperti mutiara dalam gemerlap
Sepanjang malam ia kudamba
Sepanjang malam ia kukejar
Semakin lama semakin dekat
Semakin yakin tuk bisa dapatkannya
Tanpa kusadari
Semakin kukejar
Semakin ia jauh
Semakin lama ia hilang
Bulan tak bisa kugapai
Mimpi tak bisa kugapai
Tenggelam aku dalam kegagalan
Tersesat aku dalam kesedihan
Terlarut aku dalam penyesalan
Tanpa kusadari
Matahari datang menggantikan
Sinarnya jauh lebih terang
Ia sinari yang gemerlap
Ia terangi yang gulita
Tanpa kusadari
Tuhan sudah siapkan yang lebih indah
Karena tuhan tahu yang terbaik untuk kita
Minggu, 09 Agustus 2015
Tentang dihargai menghargai
Adakah?
Dimana aku bisa menemuinya? Mengapa sulit sekali menemuinya? Masih adakah?
Oh,
mungkinkah ia dijual? Siapa yang menjualnya? Berapa harganya? DImana ia dijual?
Beritahu aku!
Tidak!
TIdak mungkin ia dijual. Walaupun ia dijual, aku yakin ia sudah habis dibeli
orang. Siapa yang tidak butuh dihargai? Adakah? Beritahu aku!
Egoisnya manusia. Ia ingin dihargai, namun sangat sulit untuk menghargai.
Oh,
mungkinkah ia sudah punah? seperti dinosaurus yang sudah tak ada, namun sampai
sekarang masih menjadi cerita.
Oh,
mungkinkah ia hanya mitos? Ya! Mitos! Seperti Pegasus yang sering sekali
dibicarakan, siapa yang tidak mau melihat betapa cantiknya Pegasus yang
diceritakan orang-orang, tapi apakah ia ada?
Beritahu
aku!
Langganan:
Komentar (Atom)