Bagiku belajar bukan cuma duduk di kelas dengerin ceramah dari dosen. Belajar bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Kali ini aku mendapat pembelajaran tentang hidup yang sangat berharga dari salah satu budaya Hari Raya, silaturahim.
Alhamdulillah, lebaran tahun ini aku sekeluarga bisa pulang ke kampung abiku di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dulu saat nenek dan kakekku masih ada, kami sekeluarga sering berkunjung ke sana.
Satu hal yang membuatku terkagum-kagum sejak dulu sampai sekarang adalah kekeluargaan di kampung yang sangat amat terasa. Bahkan setiap penghuni kampung sudah seperti saudara sendiri. Abi yang sudah merantau lebih dari 20 tahun saja tetap disambut hangat setiap pulang. Rasanya aku ikut bahagia setiap ada yang menyapa abiku "Onde mande, Fahmi. Baa kabaa? Bilo pulang?".
Terkadang aku bingung, yang mana yang saudara, yang mana yang teman masa kecil, yang mana yang tetangga. Setiap kutanya pada Abi apakah itu saudara atau teman selalu dijawab "Saudara, seiman". Teringat bagaimana aku di lingkungan rumahku jarang sekali berinteraksi dengan tetangga sekitar, jika tidak ada kegiatan di luar, biasanya aku mengurung diri di rumah, hanya keluar jika disuruh umi ke warung. Dengan tetangga hanya sekedar menyapa jika berpapasan, tanpa tahu kabar dan keadaannya, atau malah ada yang cuma bertemu di mesjid saat tarawih setiap Ramadhan.
Seperti budaya hari raya pada umumnya, kami pergi bersilaturahmi ke rumah-rumah saudara di sekitar kampung. Sayangnya waktu kami di kampung sangat singkat karena harus bolak-balik ke Kota Padang sehingga tidak semua rumah bisa kami sambangi. Salah satu rumah yang kami datangi adalah rumah Nenek Baiti, kakak dari almarhum kakekku.
Kami baru sempat datang ke rumahnya ketika sudah sangat larut. Pukul 10.00 tepatnya. Betul saja, ketika kami datang Nek Baiti sudah tertidur di depan televisi yang masih menyala. Hanya ada satu cucunya yang belum pernah kami temui sebelumnya. Saat Abi mendekati sofa tempat beliau tidur, tiba-tiba beliau terbangun dengan wajah sedikit terkejut. Beliau langsung duduk dan memasang kerudungnya dengan susah payah sehingga harus dibantu oleh umi. Mulanya aku menduga beliau sudah lupa pada abi (kalau pada aku dan umi sih pasti lupa karena hanya bertemu setiap pulang ke sana), ternyata beliau masih ingat! Dimulailah perbincangan antara abi dan Nek Baiti yang sebagian besar tidak dapat kutangkap karena bahasa dan suara Nek Baiti yang kecil.
Nek Baiti merupakan satu-satunya yang masih ada di Keluarga kakekku, adik-adik beliau sudah lama mendahuluinya. Beliau terlihat sangat renta, ketika ditanya oleh abi, "Umur etek kini bara?" (Umur tante sekarang berapa?), beliau menjawab 84 tahun namun langsung disanggah oleh cucunya karena ternyata umur beliau sudah 89 tahun. Akan tetapi, MasyaAllah, pendengaran, penglihatan, dan ingatan beliau masih baik walaupun berkurang karena usia. Bahkan beliau masih bisa berjalan dan menonton televisi.
Kepada abi, Nek Baiti juga bertanya tentang kakak dan adik abi, apakah mereka akan pulang ke kampung juga atau tidak. Walaupun sudah lama merantau, abi, kakak-kakak, dan adiknya selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahim dengan Nek Baiti setiap pulang ke kampung. Hal itu yang membuat Nek Baiti masih mengingat keponakan-keponakannya di usia senja.
Setiap orang pasti punya kesibukan masing-masing. Namun disela-sela padatnya kegiatan, coba sempatkan untuk bersilaturahim, sekedar bertanya keadaan dan kondisi pun cukup.
Kata orang, silaturahim bisa dapet THR (gakdeng wkwk), silaturahim bisa memperpanjang usia. Terlepas dari benar atau tidaknya, sesuai dengan arti silaturahim sendiri, menyambung kasih sayang, silaturahim merupakan bukti kepedulian dan dapat menjaga hubungan antara aku, kamu, kita.